J. KEARIFAN LOKAL

Kearifan lokalMENGELOLA HUTAN

Pernah ada tuduhan bahwa orang Dayak adalah perambah hutan yang merusak kelestarian alam. Pandangan itu tidak benar karena sebenarnya orang Dayak mempunyai kearifan lokal untuk melestarikan hutannya. Menurut Widjono (1998), masyarakat Dayak mempunyai sistem pengelolaan sumber daya hutan tersendiri. Di Kalimantan Barat sistem itu bernama Tembawang dan di Kalimantan Timur disebut Simpukng Munan. Sistem itu bisa membawa keutunguan secara ekonomis sekaligus melestarikan sumber daya hutan.

Menurut Ngayoh (1991) dan Widjono (1998), kearifan orang Dayak (Dayak Benuaq) dalam melestarikan alam terlihat dari pendefinisian dan pemaknaan yang mereka tentang hutan. Kawasan hutan mereka klasifikasi sebagai berikut. Pertama, Talutn Luatn, yaitu hutan bebas yang tidak termasuk wilayah persekutuan. Kedua, Simpukng Brahatn, yaitu hutan persediaan untuk berburu dan memungut hasil hutan bukan kayu. Ketiga, Simpukng Ramuuq, yaitu hutan persediaan yang diperuntukkan bagi pembuatan bangunan rumah dan kampung. Keempat, Simpukng Umaq Tautn, yaitu hutan persediaan yang difungsikan untuk perladangan. Kelima, Kabotn Dukuh, yaitu hutan yang dimanfaatkan untuk lahan perkebunan. Keenam, Simpukng Munan, yaitu hutan bekas ladang atau sekitar kampung yang ditanami pohon buah atau tanaman keras.

Di kalangan Dayak Benuaq dikenal empat jenis Simpukng Munan yang nama-namanya disesuaikan dengan lokasinya. Pertama, Simpukng Umaq, berada di kawasan perladangan. Kedua, Simpukng Lou, berada di sekitar Rumah Panjang. Ketiga, Simpukng Belay, berada di sekitar pemukiman rumah tunggal. Keempat, Simpukng Lalaq, berada di sepanjang jalan kampung.

PEMELIHARAAN TANAH

Manusia Dayak juga mempunyai komitmen untuk senantiasa melestarikan bumi. Hal itu karena mereka mempunyai pandangan filosofis mengenai arti pentingnya tanah. Menurut adat Dayak Benuaq di Kalimantan Timur, ada ”segitiga hubungan” antara alam atas (Langit Walo Lepir), manusia (Senarikng), dan tanah (Bengkolokng Tana). Menurut Widjono (1998), pandangan sosio-religius itu mirip dengan filosofi orang Bali yang juga melihat adanya ”segitiga hubungan” antara alam atas (Parahyangan), manusia (Pawongan), dan tanah (Palemahan).

PERLADANGAN

Di dalam mengelola hutan untuk perladangan, suku Dayak Bentian di Kecamatan Bentian Besar mempunyai kearifan tersendiri (Widjono, 1998). Pengelolaan atas hutan adat (Alas Mentun) itu mereka atur menurut tahapan-tahapan tertentu. Prinsipnya, hutan yang dibuka menjadi ladang itu harus kembali menjadi hutan. Untuk itu mereka menamai proses pembukaan ladang tersebut. Pada tahun pertama setelah dibuka, ladang dinamakan umeeq. Pada tahun kedua dinamakan boak. Pada tahun kelima disebut kelewako ureq. Selanjutnya disebut kelewako tuhaq (usia 10 tahun), bateng ureq (usia 20 tahun), bateng tuhaq (usia 40 tahun), alas kererayon (usia 70 tahun). Pada usia ke 100 tahun, ladang itu telah kembali menjadi hutan yang sangat lebat (alas mentun). Artinya, mereka tidak hanya membuka ladang untuk dimanfaatkan, tetapi mereka juga merencanakan untuk menghutankan kembali (reforestation) untuk menjaga pelestarian sumber daya hutan itu sendiri.

Published in: on September 14, 2009 at 7:49 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://lovedayak.wordpress.com/2009/09/14/j-kearifan-lokal/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: