A. I LOVE DAYAK

HaloI LOVE DAYAK

Tentunya bukan hanya saya, Livy Laurens, yang jatuh cinta dengan Kalimantan. Menurut Heine Geldern (1945), bumi Kalimantan telah menarik perhatian para pedagang Cina sejak jaman dinasti Han pada abad pertama Masehi. Bahkan, para pedagang dari Parsi, India, dan Arab juga datang ke Borneo. Mereka tertarik dengan hasil bumi Kalimantan yang menakjubkan seperti madu, damar, rotan, getah perca, borneo tallow, dan gaharu (aquilaria).

Namun, saya bukan seorang pedagang. Saya adalah praktisi seni, entertainer musik populer, dan peminat musik pop etnik. Saya jatuh cinta dengan seni dan kebudayaan Dayak. Meskipun aseli Yogyakarta dan tumbuh dewasa di kota gudeg ini, saya merasa terpanggil untuk turut mengembangkan kebudayaan asli Dayak. Karena itu, saya bersama tim PuneNete yang dinahkodai musisi muda Heriyanto Pemangku telah me-release album “Rijok Kenangan”, sebuah koleksi lagu-lagu etnis Dayak yang diaktualisasi dengan aransemen pop baru yang menyegarkan. Tujuan kami adalah merevitalisasi musik etnis Dayak sekaligus mempromosikan budaya Dayak ke seluruh dunia.

Blog ini adalah apresiasi spesial saya untuk kebudayaan Dayak. Pengalaman saya mengunjungi beberapa kota di Kalimantan, khususnya kota Sendawar untuk me-launching album itu telah menanamkan rasa bangga atas budaya Dayak. Keindahan alam dan keunikan budaya itu mendorong saya untuk ikut melestarikannya.

Melalui blog ini saya pribadi mengajak semua orang, baik yang asli Kalimantan maupun yang dari luar Kalimantan, untuk bersama-sama mengembangkan kebudayaan asli Dayak. Saya juga mengajak semuanya, khususnya yang berminat dengan musik etnik, untuk berkarya bersama bagi reaktualisasi musik etnik Dayak.

Published in: on September 14, 2009 at 8:09 am  Leave a Comment  

B. KEGIATAN

Foto Bersama saat launching albumPELUNCURAN ALBUM RIJOQ SENDAWAR LARIS

“KALTIM POS”, 1 September 2009

SENDAWAR – Sebanyak 600 keping VCD album Rijoq Sendawar bernuansa pop kenangan laris terjual. Lakunya sejumlah Video Copact Disc (VCD) itu setelah diborong oleh pejabat Pemkab dan DPRD Kubar dalam acara peluncuran album perdana Rijoq Kenangan di gedung Tanaa Purai Ngeriman Komplek Perkantoran Pemkab Kubar, Minggu malam (30/8).

Dari 600 keping VCD yang dinyanyikan Livy Laurens duet G Heriyanto Pemangku itu, Wabub Kubar Didik Effendi memberi 150 keping saat membuka acara itu. Kemudian Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kubar Yahya Marthan memborong 100 keping, dan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kubar Ayonius juga membeli 50 keping. Selanjutnya, beberapa anggota DPRD Kubar seperti FX Yapan dan Iku masing-masing membeli 100 keping, serta Jackson Jhon Tawi dan Zainudin masing-masing 50 keping.

Wakil Bupati Didik Effendi mengatakan, Pembab Kubar menyambut baik atas diluncurkannya album perdana Rijoq Kenangan yang bernuansa pop kenangan. “Lagu etnis Dayak ini tidak hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja, melainkan bisa merambah ke pasaran musik internasional,” harap Didik Effendi.

Selain berharap lagu Rijoq Kenangan tersebut bisa menembus pasaran musik, ia berharap agar generasi penerus untuk tidak meninggalkan lagu-lagu khas etnisnya. Apalagi dengan diluncurkannya lagu-lagu Rijoq Kenangan ini putra-putri Dayak khususnya etnis Tonyoi-Benuaq merasa termotivasi untuk berkarya dan menggali potensi budaya yang ada. “Sehingga bisa melestarikan dan mengembangkan budaya leluhur kita,” ujarnya.

Halius Huban, Eksekutif Produser PuneNete yang membuat rekaman Rijoq Sendawar mengakui, munculnya gagasan membuat lagu ini karena melihat lagu-lagu yang bukan berasal dari etnis setempat justru banyak diminati oleh warga, khususnya Dayak Benuaq. “Sering didengarkan melalui nada sambung pribadi (NSP) atau pun nada dering di handphone,” kata Hulius Huban. Rujukan itu, salah satu gagasan baru untuk membuat lagu-lagu rijoq yang aransemen pop kenangan. Lagu Rijoq Sendawar ini diciptakan G Heriyanto Pemangku, putra asal Kampung Besiq Kecamatan Damai yang masing mahasiswa semester akhir di sebuah Institut Musik di Yogyakarta (hms6).

Published in: on September 14, 2009 at 8:06 am  Leave a Comment  

C. PROFILE LIVY LAURENS

KOSTUM DAYAK2Nama: Livy Laurens, S.S., MA.CE., M.A.

Pendidikan: S-1 Sastra Indonesia (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta); S-2 Pendidikan (Universitas Kristen Immanuel Yogyakarta); S-2 Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)

Pekerjaan: Praktisi Seni, Entertainer Musik Populer, Editor buku-buku kebudayaan dan keagamaan.

Diskografi Album: ”Selalu” by Wonder Girl (Livy-Lia-Dwi) – soundtrack sinetron (1997); ”Garam Dunia” – kompilasi (2000); ”Kudatang” – kompilasi (2001); ”Hanya Kau” – kompilasi (2004); ”Pegang Erat Tanganku” – kompilasi (2004); “Tribute to Toraya” (2008) – featuring Harry Idol ; “Jasmine” (2009); ”Besar Anugerah” (2009) – colaboration worship Livy dan Heriyanto P; ”Rijok Kenangan” (2009) – kompilasi pop etnik Dayak, ”Album Rohani Katolik” (Reds Studio Production).

My BLOGS

http://www.opinilivylaurens.wordpress.com

http://www.jonathanprawira.wordpress.com

Kontak:

-         e-mail: niz-livy@yahoo.co.id

-        HP khusus untuk kontak SMS: 085 628 989 96

Published in: on September 14, 2009 at 8:04 am  Leave a Comment  

D. MUSIK

HasanALBUM “RIJOK KENANGAN”

Album “Rijok Kenangan” adalah album special yang mencoba menyajikan lagu-lagu etnis Dayak dalam kemasan aransemen pop masa kini. Tujuannya adalah merevitalisasi musik asli Dayak yang telah mekar sejak ratusan tahun silam.

Album ini diproduksi oleh PuneNete Production yang dipimpin oleh Alius Ngeban dan Heriyanto Pemangku. Musisi PuneNete adalah: Vokal (Livy Laurens, Harry Mantong, Maharani), Drum (Jantan), Bas (Oky), Guitar (Welly), Lead Guitar (Ary), Acoustic Guitar (Ary, Ayi, Deddy), Piano & Synth (G. Heriyanto Pemangku), Alto Sax (Chandra), Biola (Eric Alfons), Sampeq (Fredric, Uri).

Album ini ditangani secara professional dengan: executive producer (Alius Ngeban, Suryanto Pemangku, Nurasius), producer (Heriyanto Pemangku), Music Arranger (Heriyanto Pemangku). Proses recording, editing, mixing, dan mastering dilakukan di PuneNete Studio dan Reds Studio. Cover design dirancang oleh Widyastuti. Video Clip Director oleh Hasan Elyanto. Fotografi oleh Anthony A. Rampan.

Album “Rijok Kenangan” mendapat dukungan dan apresiasi akademis dari dua orang pakar dari Universitas Gadjah Mada dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta sebagai berikut.

“Masa lalu…kadang hanya tersisa dalam sebuah lagu, kadang hanya mengusik lewat musik…. Hadirnya Rijok Kenangan ini merupakan bukti kreatif dalam memelihara / menghidupkan masa lalu dan untuk menyadarkan kita ada…ini merupakan gerakan kebudayaan yang niscaya di tengah ancaman kepunahan seni / budaya lokal / daerah…. Selamat! (from Singapore with love) (Prof. Irwan Abdullah, Ph.D. – Antropolog, Direktur Sekolah Pasca Sarjana UGM Yogyakarta).

“Khasanah musik rakyat selalu bersifat dinamis, diwariskan dan berubah dan seiring perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Musik rakyat Dayak Benuaq Tonyoi, seperti musik Dayak lainnya sesungguhnya menyimpan kekayaan ekspresi musikal yang original dan genuine, tetapi terlalu sulit dipahami oleh generasi muda. Oleh karena itu, upaya transisi makna dan yang original dan genuine ke dalam medium pop, tentulah sebuah musical effort yang perlu kita apresiasi, dan sebab itu, kita beri support kepada Tim Rijok Kenangan ini.” (Prof. T. Bramantyo, Ph.D. – Musikolog, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta)

Published in: on September 14, 2009 at 7:57 am  Leave a Comment  

E. KESENIAN

Kostum DayakLAGU DAERAH

Masyarakat Dayak cukup kaya dengan lagu-lagu daerah. Beberapa lagu daerah di antaranya adalah “Burung Egang” (berbahasa Kutai), “Meharit” (berbahasa Kutai), “Sabar’ai-sabar’ai” (Berbahasa Banjar), “Arjat Manik” (berbahasa Berau Benua), “Bebilin” (berbahasa Tidung), “Andang Sigurandang” (berbahasa Tidung), “Badone” (berbahasa Dayak Benuaq), “Ayan Sae”, “Basar Niat” (berbahasa Melayu Berau), “Berampukan” (berbahasa Kutai), “Undur Hudang” (berbahasa Kutai), “Kada Guna Marista” (berbahasa Banjar), “Tajong Samarinda” (berbahasa Kutai), “Citra Niaga” (berbahasa Kutai), “Taman Anggrek Kersik Luwai”, “Sorangan” (berbahasa Banjar), “Sungai Kandilo” (berbahasa Pasir), “Rambai Manguning” (berbahasa Banjar), “Ading Manis” (berbahasa Banjar), dan “Indung-indung” (berbahasa Melayu Berau).

TARI-TARIAN

Sangat menonjol dalam budaya Dayak adalah kesenian tari. Menurut Widjono (1998), tarian dilaksanakan selalu dalam konteks ritual dan seremonial, meskipun ada juga yang sufatnya umum. Dengan demikian tari-tarian Dayak mempunyai makna yang mendalam.

Beberapa tarian itu antara lain Tari Bedewa dari suku Dayak Tidung, Tari Huk Bebalon dari suku Dayak Tidung, Tari Gentar daru suku Dayak Benuaq, Tari Ngerangkaw dari suku Dyaak Benuaq, Tari Kencet dari suku Dayak  Kenyah, Tari Datun dari suku Dayak Kenyah, dan Tari Hudiq dari suku Dayak Bahau.

Beberapa tarian berhubungan dengan kegiatan tanam-menanam. Tari Gantar menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumpuk sedangkan bambu serta biji-bijian di dalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya. Tari Hudoq dilakukan dalam rangka upacara untuk mengusir hama tanaman dan untuk mengharapkan panen yang melimpah. Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang dan daun kelapa sebagai penutup tubuh si penari.

Beberapa tarian lainnya membawa pesan kepahlawanan. Tari Kencet Papatai misalnya, menceritakan seorang pahlawan Dayak yang berperang melawan musuh dengan gagah berani. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat. Kadang-kadang diselingi pekikan si penari. Tari Kencet Lasan sebenarnya juga menyampaikan pesan kepahlawanan. Tarian ini menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang melambangkan keagungan dan kepahlawanan. Dalam menarikan tari ini, si penari benyak melakukan posisi merendah, berjongkok, dan duduk dengan lutut menyentuh lantai.

Published in: on September 14, 2009 at 7:56 am  Leave a Comment  

F. ALAM

Mahakam RiverPESONA MAHAKAM

Orang Kalimantan akan bilang bahwa kalau anda pernah ke sungai Mahakam, apalagi menyentuh atau meminum airnya, anda pasti akan kembali mengunjungi Kalimantan. Memang, pesona Mahakam begitu luar biasa. Menyusuri sungai itu bagaikan menerobos keindahan demi keindahan yang tiada berujung.

Mahakam adalah sungai terbesar dan terpandang di Provinsi Kalimantan Timur. Panjangnya 720 kilometer dan dapat dilayari sejauh 480 kilometer dari muara sampai kota Laham. Sungai ini bermata air di Pegunungan Iban (perbatasan dengan Serawak) dan bermuara di selat Ujungpandang. Sungai Mahakam melewati dua kota penting yaitu Samarinda dan Tenggarong.

KEKAYAAN FAUNA

Menurut Widjono (1998), diperkirakan 10 persen dari jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di muka bumi ini dapat ditemukan di hutan tropis Kalimantan yang sebagian besar merupakan jenis endemik. Menurut sumber lain, di Kalimantan Timur saja diperkirakan tumbuh antara 1000 sampai 189.000 jenis tumbuhan. Di antaranya yang sangat eksotik adalah Anggrek Hitam yang harga per bunganya bisa mencapai Rp. 100.000 sampai Rp. 500.000.

HASIL HUTAN

Kalimantan kesohor dengan hutannya yang luar biasa. Hutan ini bukan hanya menghasilkan kayu yang telah lama banyak dijarah oleh orang-orang serakah. Widjono (1998) mendaftarkan berbagai hasil hutan Kalimantan di luar kayu sebagai berikut. Pertama, gaharu yang menebarkan aroma harum, bisa dipakai sebagai dupa seperti yang dipakai orang-orang Cina, India, dan Arab. Menurut catatan Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim, produksi gaharu mencapai 1.633 ton per tahun sejak 1992. Kedua, sarang burung, banyak ditemui di gua-gua hutan primer Kalimantan. Ketiga, batu guliga, bentuknya endapan yang mengeras, terdapat pada organ tubuh binatang-binatang tertentu di hutan Kalimantan, berguna sebagai obat. Keempat, cula badak (didermocerus sumstrensia) yang bermanfaat sebagai obat manjur. Kelima, resin atau damar yang bermanfaat sebagai alat perekat. Keenam, rotan, tanaman bersulur yang multi guna. Ketujuh, getah perca dari pohon berumpun palaqium, bermanfaat sebagai perekat dan dempul tahan air. Kedelapan, kapur atau champor uang berguna sebagai obat. Kesembilan, lilin lebah dan madu. Kesepuluh, tengkawang yang dikenal sebagai mentega hijau atau borneo tallow, berguna sebagai bahan minyak goreng.

Published in: on September 14, 2009 at 7:54 am  Leave a Comment  

G. MASYARAKAT

PersahabatanKEHIDUPAN KOMUNAL

Salah satu ciri yang menonjol dalam kehidupan masyarakat Dayak adalah semangat kekeluargaannya. Hal itu berakar dari kehidupan bersama dalam Rumah Panjang (lamin) yang terwariskan lintas generasi. Widjono (1998) menegaskan bahwa kehidupan komunal turun-temurun itu mampu mendukung proses pengukuhan tradisi kebersamaan. Dan semua itu terjadi melalui kehidupan Rumah Panjang yang pada awalnya hanyalah rumah tinggal sebuah keluarga. Kemudian mereka beranak-pinak secara turun-temurun dengan tetap tinggal di rumah yang sama. Maka, tempat tinggal mereka pun terus menerus diperbesar menjadi Rumah Panjang tersebut.

Semangat kekerabatan yang sangat tinggi itu mewarnai kehidupan bermasyarakat yang lebih luas. Mereka merasa merupakan sebuah keluarga besar yang terikat erat satu sama lain. Karena itu, proyek resetlement desa dan resetlement penduduk yang dimaksudkan Pemerintah untuk memperlancar pembangunan terkadang mereduksi semangat kekekerabatan dan kekeluargaan yang telah dibangun dari generasi ke generasi itu (Widjono, 1998).

ADAT BESARA

Masyarakat Dayak mengutamakan musyawarah. Ada upacara adat yang dinamakan Besara, yaitu musyawarah adat yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu tindak pelanggaran hukum yang dilakukan oleh warga masyarakat. Adat ini menunjukkan bahwa orang Dayak mencintai keteraturan dan melakukan kontrol sosial untuk menjaga perilaku sosial yang baik.

Dalam adat Besara itu dilakukan pemberian denda adat atau gawai. Para pelanggar hukum adat dikenai denda untuk menimbulkan efek jera. Dalam urusan denda mendenda ini, otoritas ada pada kepala adat. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Dayak sudah mengenal hukum secara adat. Keteraturan sosial benar-benar dijaga untuk mempertahankan integrasi masyarakat. Faktor kepemimpinan juga cukup kuat sehingga organisasi sosial terkendali.

Published in: on September 14, 2009 at 7:53 am  Leave a Comment  

H. RUMAH PANJANG

Rumah PanjangPUSAT KEBUDAYAAN

Rumah khas Dayak disebut sebagai Rumah Panjang atau lou atau betang atau lamin. Menurut Stephanus Djueng (dalam Kalimantan Review No 3 Tahun II / 1993), Rumah Panjang itu bukan sekedar tempat tinggal komunal biasa, tetapi merupakan pusat kebudayaan Dayak. Menurut Widjono (1998) masyarakat Dayak membangun tatanan social, ekonomi, budaya, dan politik yang berpusat di Rumah Panjang tersebut. Dengan demikian Rumah Panjang memiliki arti penting dalam tiga hal, pertama sebagai tempat hunian. Kedua, sebagai system hukum. Ketiga, sebagai system ekonomi dan hak milik.

Rumah Panjang menunjukkan bagaimana masyarakat Dayak hidup dalam suasana kekeluargaan yang sangat kental. Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kekerabatan dan semangat kegotong-royongan. Hal itu berbeda sama sekali dengan kehidupan masa kini yang sangat individualistic dan egosentrik.

Pada masa silam, menurut Widjono (1998), Rumah Adat adalah tempat untuk melaksanakan musyawarah adat (berinuq). Melalui musyawarah ini semua masalah bersama dibicarakan dengan baik. Bahkan Rumah Panjang merupakan sebuah unit peradilah. Jika ada pertikaian antar anggota keluarga dapat diselesaikan di sini dengan keterlibatan para tetua adat. Dengan demikian, sekarang ketika orang-orang tidak lagi hidup di Rumah Panjang, semangat musyawarah bisa terancam berkurang. Karena itu sangat penting untuk melestarikan budaya Rumah Panjang tersebut.

Menurut Widjono (1998), aspek kepemilikan rumah panjang itu jelas. Hak wilayah Rumah Panjang merupakan hak yang bersifat sekunder. Adapun hak primernya dipegang oleh tiap-tiap keluarga atau kelompok keluarga kecil yang memiliki ikatan kekerabatan.

Published in: on September 14, 2009 at 7:52 am  Leave a Comment  

I. KEBUDAYAAN

Patung DayakSISTEM BUDAYA

Kebudayaan adalah keseluruhan system gagasan, system perilaku (tindakan), dan kompleks benda-benda hasil karya manusia yang menjadi milik diri melalui proses belajar. Sistem gagasan menunjuk pada kebudayaan abstrak yang termasuk di dalamnya system kepercayaan, filosofi-filosofi, dan system norma. Kebudayaan Dayak sendiri sarat dengan kepercayaan-kepercayaan tradisional. Sebagai contoh adalah pandangan orang Dayak tentang adat (Widjono, 1998). Menurut mereka, adat Dayak berasal dari para dewa yang diwariskan kepada manusia pada jaman dulu untuk mengatur kehidupan umat manusia di bumi. Jaman dulu itu, menurut orang Dayak Bahau, adalah jaman tuktuna tubu yang digambarkan sebagai langit berang hulau tana barang laping. Para dewa menyuruh manusia untuk menjaga adat secara turun-temurun.

Kebudayaan sebagai system perilaku adalah pola-pola perilaku yang dikendalikan oleh norma-norma yang ada. Hal itu terlihat jelas dari system kontrol social atas semua perilaku orang Dayak. Termasuk di dalamnya terdapat adat besara yang mengatur sanksi bagi para pelanggar norma-norma adat. Kesetaraan antara kaum pria dan kaum wanita dalam kehidupan sehari-hari juga terjadi karena adat Dayak tidak membeda-bedakan masalah tersebut. Sistem genealogis dalam masyarakat Dayak adalah parental, yaitu menarik garis keturunan dari pihak ayah dan ibu sekaligus.

Kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia (budaya materi) juga berkembang. Menurut Widjono (1998), ada beberapa budaya materi yang menonjol disamping Rumah Panjang yang terkenal itu. Peralatan senjata khas Dayak tidak dijumpai di suku-suku lain, yaitu mandau dan sumpit. Yang menjadi semakin unik, mandau dan sarungnya senantiasa diukir khas menurut suku masing-masing. Kerajinan tradisional Dayak juga khas, yaitu anyaman dari rotan. Anyaman tikar dan sejenis keranjang (anjat, kiang, berangka) juga sangat khas. Orang Dayak juga mengembangkan kerajiban tembikar seperti bejana, tempayan, belanga, dan lain-lain sejak ribuan tahun silam. Konon itu merupakan warisan budaya dari Cina Selatan, asal-usul mereka.

Published in: on September 14, 2009 at 7:50 am  Leave a Comment  

J. KEARIFAN LOKAL

Kearifan lokalMENGELOLA HUTAN

Pernah ada tuduhan bahwa orang Dayak adalah perambah hutan yang merusak kelestarian alam. Pandangan itu tidak benar karena sebenarnya orang Dayak mempunyai kearifan lokal untuk melestarikan hutannya. Menurut Widjono (1998), masyarakat Dayak mempunyai sistem pengelolaan sumber daya hutan tersendiri. Di Kalimantan Barat sistem itu bernama Tembawang dan di Kalimantan Timur disebut Simpukng Munan. Sistem itu bisa membawa keutunguan secara ekonomis sekaligus melestarikan sumber daya hutan.

Menurut Ngayoh (1991) dan Widjono (1998), kearifan orang Dayak (Dayak Benuaq) dalam melestarikan alam terlihat dari pendefinisian dan pemaknaan yang mereka tentang hutan. Kawasan hutan mereka klasifikasi sebagai berikut. Pertama, Talutn Luatn, yaitu hutan bebas yang tidak termasuk wilayah persekutuan. Kedua, Simpukng Brahatn, yaitu hutan persediaan untuk berburu dan memungut hasil hutan bukan kayu. Ketiga, Simpukng Ramuuq, yaitu hutan persediaan yang diperuntukkan bagi pembuatan bangunan rumah dan kampung. Keempat, Simpukng Umaq Tautn, yaitu hutan persediaan yang difungsikan untuk perladangan. Kelima, Kabotn Dukuh, yaitu hutan yang dimanfaatkan untuk lahan perkebunan. Keenam, Simpukng Munan, yaitu hutan bekas ladang atau sekitar kampung yang ditanami pohon buah atau tanaman keras.

Di kalangan Dayak Benuaq dikenal empat jenis Simpukng Munan yang nama-namanya disesuaikan dengan lokasinya. Pertama, Simpukng Umaq, berada di kawasan perladangan. Kedua, Simpukng Lou, berada di sekitar Rumah Panjang. Ketiga, Simpukng Belay, berada di sekitar pemukiman rumah tunggal. Keempat, Simpukng Lalaq, berada di sepanjang jalan kampung.

PEMELIHARAAN TANAH

Manusia Dayak juga mempunyai komitmen untuk senantiasa melestarikan bumi. Hal itu karena mereka mempunyai pandangan filosofis mengenai arti pentingnya tanah. Menurut adat Dayak Benuaq di Kalimantan Timur, ada ”segitiga hubungan” antara alam atas (Langit Walo Lepir), manusia (Senarikng), dan tanah (Bengkolokng Tana). Menurut Widjono (1998), pandangan sosio-religius itu mirip dengan filosofi orang Bali yang juga melihat adanya ”segitiga hubungan” antara alam atas (Parahyangan), manusia (Pawongan), dan tanah (Palemahan).

PERLADANGAN

Di dalam mengelola hutan untuk perladangan, suku Dayak Bentian di Kecamatan Bentian Besar mempunyai kearifan tersendiri (Widjono, 1998). Pengelolaan atas hutan adat (Alas Mentun) itu mereka atur menurut tahapan-tahapan tertentu. Prinsipnya, hutan yang dibuka menjadi ladang itu harus kembali menjadi hutan. Untuk itu mereka menamai proses pembukaan ladang tersebut. Pada tahun pertama setelah dibuka, ladang dinamakan umeeq. Pada tahun kedua dinamakan boak. Pada tahun kelima disebut kelewako ureq. Selanjutnya disebut kelewako tuhaq (usia 10 tahun), bateng ureq (usia 20 tahun), bateng tuhaq (usia 40 tahun), alas kererayon (usia 70 tahun). Pada usia ke 100 tahun, ladang itu telah kembali menjadi hutan yang sangat lebat (alas mentun). Artinya, mereka tidak hanya membuka ladang untuk dimanfaatkan, tetapi mereka juga merencanakan untuk menghutankan kembali (reforestation) untuk menjaga pelestarian sumber daya hutan itu sendiri.

Published in: on September 14, 2009 at 7:49 am  Leave a Comment  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.